Keluar dari kotak (aisha)

Oktober 30, 2007 at 6:58 pm | In IQ | 1 Comment

Di sekolahku, setiap hari senin Minggu keempat kita ga pernah upacara, soalnya ada pembinasaan (Pembinaan Wali Kelas) di kelas masing-masing. Nah, semenjak aku duduk di kelas XII nih, pembinasaan itu diubah jadi pembinaan di lapangan. Jadi semua murid SMANSA n guru-guru pergi ke lapangan n dengerin semacam motivasi lah dari pakar-pakar yang diundang.

Ini udah dua kali dilaksanain, tapi berhubung pas pembinaan yang pertama, yang pembicaranya Pak Supri (afwan kalo salah0 aku ga masuk skul, jadi bagiku ini teh pembinaan di lapangan yang pertama kali (n_n)

Hari ini pembicaranya itu Pak Nasikin (afwan kalo salah), dari UI. Beliau bilang, di dunia ini semua orang tua pasti ingin anaknya sukses. So,,kita harus belajar,,hehehehe. Intinya sih bukan itu, yang jelas beliau menekankan kita nih buat berfikir keluar dari kotak..

Apa sih berfikir keluar dari kotak itu?

masuk ke kotak terus keluar baru mikir?
ya enggaklah! :p

So,,gini nih maksudnya. Beliau bilang, kita tuh hidup di era globalisasi, dan ga ada satupun yang bisa mencegah globalisasi terus berkembang (kecuali Allah ya..). Kalau kita mikirnya standar-standar aja,, ya kita bakal kegiles ama SDM-SDM dari negara lain. Pemikiran yang standar, misalnya nih..buat yang sekarang lagi duduk di kelas XII, targetnya harus lulus SPMB. Gak papa sih sebenernya, tapi kata beliau jadikan itu pilihan terakhir. Maksudnya, kita jangan terpaku ama itu aja, kita juga harus nyoba skul di luar negeri. Cari Beasiswa. Jangan ngerjain soal2 SMPB,,tapi soal2 yang luar negeri oriented juga…karena itu tadi,,we are going to interface the globalization..
————————————————————————————————

Kalau aku pribadi sih mikir, berfikir keluar dari kotak adalah cara berfikir yang di luar standar. Maksudnya, mungkin kebanyakan dari kita sering meng-under estimate diri sendiri, berfikir bahwa diri kita ga mampu, padahal sebenarnya kita mampu. Pikiran yang ngatif itu lah yang membuat kita ga akan maju…
Selain itu, yang menghalangi kita untuk berfikir di luar kotak adalah faktor lingkungan. Bisa jadi, kalo kita tinggal di lingkungan yang enggak menomorsatukan pendidikan, kita ga akan pernah mau mikirin tentang pendidikan, padahal itu penting…

gak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, yuk kita sama-sama berubah..

Tulisan ini didedikasikan buatku dan semua temen-temen yang berusaha untuk menjadikan diri ini lebih baik..amin (n_n)

Seandainya rodaku dibawah, dunia ku malam (Zahra)

Oktober 30, 2007 at 6:57 pm | In Penataan dan Pemetaan | Leave a Comment

Hari ini aku sengaja gak bawa motor ke kantor. Biarin nebeng aja ama bos, biar hemat bensin dan enak tinggal duduk ajah (hehehe….). Perlahan motor pun melaju, angin sepoi-sepoi mengayun-ayunkan jilbabku….subahanalloh indahnya pagimu Ya Alloh.. J

Kami mulai melewati jembatan yang tinggi yang dibawahnya ada sungai. Sekilas mataku tertuju dengan seorang bapak yang sedang susah payah mendorong gerobak yang penuh berisi pisang di jembatan itu. Mataku tak mau beralih dari menatap pemandangan itu. Serasa aku ikutan capek lihat nafasnya yang tersengal-sengal karena menahan beratnya beban di gerobaknya.

Aku mulai membandingkan dengan diriku, yang sedikit lebih beruntung dibanding dia. Kerja gak perlu panas-panasan. Gak perlu keluar tenaga banyak, duduk di kursi yang nyaman. Dan walau sedikit aku punya anggaran yang bisa diaharapkan tiap bulannya. Sementara bapak itu…keuntungan dari jualan pisangnya gak seberapa (menurutku), belum lagi harus berhadapan dengan pembeli yang soal tawar-menawar gila benerrr….menzholimi penjualnya. Aku belum punya tanggungan yang harus di biayai, bapak itu mungkin anaknya 3 , empat atau mungkin 6 orang. Masya4jj1…gimana dia mengatur keuangan rumahtangganya…

Lama aku menatap wajahnya yang walau terlihat lelah tapi ada semburat ketabahan dan keikhlasan menjalani hidupnya itu. Prends..mungkin kita akan berfikir itu emang sudah taqdir hidupnya, nggak perlu capek-capek mikirin gituan deh…Ya mungkin kita bisa mengatakan gitu. Tapi , ingatlah sobat gak selamanya roda itu diatas, gak selamanya dunia itu malam. Ada kalanya malam beranjak digantikan sang surya, ada kalanya roda yang tadinya di atas menjadi di bawah. Saat ini kita yang di atas, belum tentu besok. Mungkin karena keserakahan kita, keegoan kita, ketidak perdulian kita Dia mengambil sumber rezeki yang selama ini kita bangga-banggakan. Mendadak perusahaan bangkrut, atau usaha kita yang ditipu orang, atau toko kita terbakar, na’uudzubillah..
Seandainya rodaku di bawah, duniaku menjadi malam. Semua kemudahan menjadi sulit, semua kenikmatan menjadi kesengsaraan. Sobat…Kalau 4jj1 mau untuk mengambil semua yang sedang dititipkannya pada kita , hanya sebentar saja sobat. Bukankah seluruh harta yang kita miliki, bahkan tubuh ini, wajah yang cantik , tampan atau otot yang kekar semua itu adalah titipannya ?

Jangan sampai Dia menegur kita, baru jiwa kita yang serakah tersadar. Walau belum terlambat untuk bertaubat tapi sungguh waktu yang tersisa belum tentu bisa menebus semua kezholiman kita.

Sobat, mari kita jadikan bulan suci ini adalah bulan untuk mengasah kelembutan hati, Bulan untuk berbagi. Rp.1,- yang kamu keluarkan akan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan dari yang engkau berikan. Bank mana yang mau memberikan bungan 1000%. Memang sangat indah jika melakukan jual beli dengan Dzat Yang Maha Kaya . Subhaanalloh.. J

Aneh… memang aneh (zahra)

Oktober 30, 2007 at 6:56 pm | In Penataan dan Pemetaan | Leave a Comment

Hari ini aku mulai keluar rumah, kebetulan hari ini ada seminar dan aku salah satu yang memiliki tanggung jawab untuk susksesnya seminar itu. Waktuku gak banyak lagi agar tiba tepat waktu di tempat, mau gak mau aku harus menaikkan speedometer sepeda motorku sampai 50km/jam. Ups..ternyata aku kejebak harus menunggu lewatnya kereta api. Ternyata jalan kereta api agak lambat jadi semua kendaraan harus menunggu lebih lama. Tiba-tiba ada sepeda motor yang melewati saja palang penghalang itu. Satu, dua, tiga dan seterusnya….eh..eh..aku berfikir, apa mereka-mereka ini gak tau rambu-rambu lalu lintas apa? Atau mereka gak berfikir perbuatannya tidak hanya mencelakakan dirinya sendiri tapi juga orang lain.
Dan ak
u mencoba mencari jawaban terbaik dari itu semua, dan kutemukan mungkin orang-orang yang menerobos palang kereta api itu adalah orang yang sangat menghargai waktu. Sehingga tidak ada namanya waktu yang boleh kosong walaupun sekedar menunggu beberapa menit sampai lewat kereta api.Great…
Walau jawaban ini terdengar aneh..mungkin ini jawaban terbaik untukku, jadi kepalaku gak perlu pusing-pusing mikirin kegilaan mereka menerobos palang rel saat kereta api tinggal beberapa meter saja dari palang itu.
Setelah kereta api lewat perlahan aku menaikkan speedometer motor ku. Terus aku berjalan, sambil sibuk dengan fikiranku tadi, sibuk dengan kegilaan sebagian orang dari bangsa ini, keanehan mental bangsa ku. Di depanku sudah lampu merah. Nah disini aku kembali melihat keanehan itu. Manusia-manusia aneh tadi kembali ku temukan. Dengan enaknya mereka menerobos lampu merah, padahal mungkin dalam detik yang sama kendaraan lain dalam arah yang berlawanan akan lewat juga. Sobat, mungkin ini hal yang bisa kita lihat. Atau mungkin pernah atau bahkan sering kita lakukan. MasyaAlloh…
Ya tanpa kita sadar, sudah sekian banyak pengendara lain yang kita rampas hak mereka untuk lewat. Tanpa sadar juga, kita telah memberikan peluang sekian manusia untuk berada dalam ancaman kecelakaan karena perbuatan kita, peluang untuk berakhir hidup mereka melalui kita. Yah orang-orang yang menerobos itu seolah-olah telah menjelma menjadi orang yang paling menghargai waktu di dunia ini. Jadi ia tidak bisa menyisihkan waktu barang sebentar untuk menunggu giliran lampu hijau.
Tapi sayang beribu sayang. Dibalik asumsi ku tadi, asumsi bahwa aku sedang melihat manusia yang peling menghargai waktu di dunia ini, sehingga dengan mudahnya merampas hak orang lain, mengancam keselamatan jiwa orang lain, aku melihat realitas ratusan atau ribuan anak muda, orang tua, yang ku lewati setiap harinya di pinggir jalan yang kerjanya hanya nongkrong-nongkrong tanpa ada sesuatu yang produktif yang mampu mereka hasilkan. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku dua hal yang sangat kontradiksi itu. Dua sisi yang saling bertolak belakang…
Ternyata sebagian dari bangsa ini hanya mampu menuntut HAK tanpa perduli dengan KEWAJIBAN. Aku hanya berharap, aku, dirimu dan kita semua tidak menambah daftar panjang orang aneh yang ada dalam kisahku tadi. Karena setiap perbuatan akan diminta pertanggung jawabannya.

Barang siapa yang mengerjakan kebajikn seberat biji dzarroh akan ada balasannya. Dan barang sapa yang menegrjakan kejahatan seberat dzarroh akan ada balasannya. (QS. Al Zalzalah (9) : 7-8)

Berkejaran dengan waktu (Syahida)

Oktober 30, 2007 at 6:55 pm | In Demi Masa.. | Leave a Comment

Setiap orang yang hidup menempati dunia yang sama dan mempunyai jatah waktu yang sama, entah dia seorang ahli surga atau neraka, orang sukses atau gagal, kaya atau miskin. Sama-sama hanya mempunyai jatah 24 jam setiap harinya. Tetapi satu hal yang membuatnya berbeda adalah bagaimana penghargaan masing-masing terhadap waktu dan bagaimana cara memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Contoh kecil, ketika akan diadakan acara di suatu tempat, sambil menunggu pembicara datang, ada yang berdzikir, ada yang tilawah, ada yang melamun sambil terkantuk-kantuk, dan ada juga yang ngobrol. Jumlah waktu yang dihabiskan sama, tapi hasilnya jauh berbeda.

Rasulullah SAW pernah mengatakan rata-rata umur manusia sekitar 60 tahun. Kemudian Imam Ghazali mengatakan kalau manusia yang umurnya 60 tahun dan memiliki waktu tidur selama 8 jam/hari maka sesungguhnya dia hidup cuma 40 tahun saja, karena 1/3 alias 20 tahun waktunya sudah hilang untuk tidur. Itulah kebanyakan manusia. Waktu yang tidak mungkin bisa diulang, hanya dihabiskan untuk memenuhi kesenangannya saja.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan: sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang usianya dan bagus amal perbuatannya. Seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang usianya dan buruk amal perbuatannya. (HR Ahmad). Bayangkan jika jenis manusia yang kedua itu adalah kita. Maka bekal apakah yang akan kita bawa untuk dihisab di akhirat kelak?

Belum hilang dari ingatan kita tentang musibah yang belakangan ini terjadi secara tiba-tiba. Bukan suatu hal mustahil ketika gempa atau banjir datang, pada saat itu juga Allah berkehendak mencabut nyawa kita. Maka akankah kita berakhir dalam keadaan khusnul khotimah atau su’ul khotimah? Sementara kita tidak tahu apakah saat itu kita sedang melakukan kebaikan ataukah kemaksiatan. Padahal Rasulullah telah bersabda: “Setiap orang akan mati seperti dalam keadaan hidupnya dan akan dibangkitkan seperti dalam keadaan matinya” (HR Muslim)

Benar-benar tak ada yang bisa memprediksi kapan maut datang menjemput, karena maut tak ubahnya seperti tamu yang tak diundang. Datang begitu saja tanpa memberi kabar. Tak ada proses tawar menawar atau tarik ulur. Begitu sang penjemput jiwa datang, tak ada hal yang bisa diperbuat. Raga meregang, nyawa pun terbang.

Tapi sepertinya memang sudah menjadi watak khas manusia. Musibah datang, taubat massal pun ramai-ramai digelar. Musibah lewat, taubat pun disimpan rapat-rapat (mungkin untuk persediaan kalau ada musibah susulan). Kita kembali disibukkan oleh urusan duniawi. Karena kita sudah sedemikian mahfum bagaimana cara menghabiskan waktu dengan kesibukan ala hedonisme dan konsumerisme sebagai anak kandung peradaban materi yang makin tidak manusiawi.

Tampaknya kita terlalu lupa bahwa hidup berkejaran dengan waktu. Terlalu lupa kalau hidup adalah waktu itu sendiri. Bukankah Allah telah berulangkali bersumpah di dalam al-Qur’an atas nama waktu: wal Ashr (demi masa), wadh dhuha (demi dhuha), wal laili (demi malam), wan nahaar (demi siang). Karena memang waktu memegang peranan penting dalam perjalanan hidup makhluk seperti kita ini. Benar-benar sangat merugi manusia kecuali mereka yang beramal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan.

Rasanya kita bukan siapa-siapa dibanding generasi awal dulu. Waktu mereka lewat tanpa sedikitpun kesia-siaan. Rasulullah yang dijamin diampuni kesalahnnya yang terdahulu dan akan datang saja masih terus bersujud meratap di sepertiga malamnya sampai kakinya bengkak-bengkak. Sholahuddin Al Ayyubi tak pernah tertawa karena Palestina belum terbebaskan. “Sesungguhnya orang-orang shalih dapat menghela nafas dirinya kepada kebaikan secara suka rela, sementara kita tidak dapat menghela diri kita kecuali setelah memaksanya” (Ibnul Mubarak).

Bisa jadi kita mulai menjadi generasi-generasi kapitalis yang ingin mendapatkan output yang sebesar-besarnya, dengan input yang seminimal mungkin. Menginginkan masuk surga dengan pegorbanan yang sedikit, dengan amalan yang yang tidak seberapa dan keikhlasan yang serba pas-pasan. Rasulullah bersabda, “Generasi awal sukses karena zuhud dan teguhnya keyakinan, sedang ummat terakhir hancur karena kikir dan banyak berangan muluk kepada Allah.” Wallahu a’lam

Renungan jelang milad

Me…

Oktober 30, 2007 at 6:27 pm | In Jendela Hati | Leave a Comment
Tags:

When you have no light to guide you
And no one to walk beside you
I will come to you

When the night is dark and stormy
You won’t have to reach out for me
I will come to you

Sometimes when all your dreams may have seen better days
And you don’t know how or why, but you’ve lost your way
Have no fear when your tears are fallin’
I will hear your spirit callin’
And I swear I’ll be there come what may

‘Cause even if we can’t be together
We’ll be friends now and forever
And I swear that I’ll be there come what may
We all need somebody we can turn to
Someone who’ll always understand
So if you feel that your soul is dyin’
And you need the strength to keep tryin’
I’ll reach out and take your hand…

Hello world!

Oktober 28, 2007 at 6:53 am | In Jendela Hati | Leave a Comment

^_^ hello world! kayak para hacker aja yang bermanfaat didunia maya dengan senjata pearl, java, phyton dllnya

walau sebenarnya hanya ingin mengucapkan Hello World !

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.