u_re_my_friend (Aulia)

November 6, 2007 at 2:21 pm | In Jendela Hati | Leave a Comment

(email dari adikku tersayang, yang sedang berulang tahun ………)
Bila “Dia” memenggil mu lebih dahulu,
Mohonlah pada Nya apakah dapat membawa seorang sahabat.

Bila usiamu sampai seratus tahun,
Aku ingin hidup seratus tahun kurang satu hari,

Jadi aku tak akan merasa hidup tanpa mu,

disisiku.

Sahabat sejati , akan
tetap bersama kita,

ketika kita merasa seisi

dunia meninggalkan kita

Ayahku selalu berkata,
Bila kamu memiliki banyak

sahabat sejati, , maka

kau akan memiliki kehidupan

yang indah.

Jika seluruh sahabat kumelompat
dari suatu jurang,

aku tak akan mengikuti mereka,

Aku akan berada di dasar jurang

untuk menangkap mereka

Rangkullah sahabat sejatimu dengan kedua lenganmu
Aku akan membimbingmu
dan kau akan membimbingku

begitu sebaliknya

Persahabatan adalah satu jiwa
dalam dua raga

Jangan kamu berjalan
didepanku, aku tak

dapat mengikuti mu.

Jangan kamu berada di

belakangku ,aku tak bisa

Memimpinmu.

Berjalanlah disampingku,

jadilah temanku.

Teman akan mendengarkan
Apa yang kau katakan,

Sahabat sejati akan mendengar

apa yang tidak kamu katakan.

Seorang sahabat adalah yang dapat
mendengarkan lagu didalam hatimu,

dan menyanyikan kembali tatkala

kau lupa akan bait-baitnya.

Kita semua memiliki peran
yang berbeda dalam hidup ini,

Tapi tak menjadi soal dimana posisi

kita, akan memiliki arti sekecil apapun

peran itu

Sahabat adalah Tangan Tuhan untuk menjaga kita
Orang asing adalah teman
yang menunggu apa yang akan terjadi.

Sahabat sejati seperti penganan dalam

mangkuk kehidupan

avantha@desilver.com

Iman dengan Takdir

November 3, 2007 at 2:19 pm | In Keajaiban 2 Kalimat | Leave a Comment

Republika, Sabtu, 03 Nopember 2007

Oleh : Rifqi Fauzi

”Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah SWT, dan barang siapa yang beriman kepada Allah SWT niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghabun [64]: 11).

Iman kepada takdir adalah pilar kehidupan yang Allah SWT anugerahkan kepada setiap hambanya yang beriman. Dengan mengimani takdir seseorang akan mampu dan siap mengarungi bahtera kehidupan dengan sempurna, karena iman kepada takdir akan menumbuhkan sifat positif. Dengan begitu, dia akan senantiasa berada dalam keseimbangan.

Di antara sifat positif itu adalah, pertama, dengan iman kapada takdir seseorang akan selalu dalam kebaikan. Bersyukur ketika Allah SWT memberikan nikmat dan bersabar serta tawakal ketika Allah memberikan musibah. Hal ini bertolak belakang dengan kebanyakan manusia pada umumnya, sebagaimana firman-Nya, ”Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, akan tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS Fushshilat [41]: 51).

Kedua, dengan iman kepada takdir, seseorang akan senatiasa bekerja keras dan istikamah. Karena, ia percaya dan mengimani bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali dengan usahanya sendiri. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya Allah SWT tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra`du [13]: 11).

Ketiga, dengan iman kepada takdir berarti mengimani bahwa musibah dan bencana yang datang bukan hanya merupakan kodrat Ilahi, namun juga dikarenakan kesalahan manusia sendiri. Sehingga, akan senantiasa mawas diri, selalu berhati-hati, tidak menyombongkan diri dan menghentikan segala perbuatan yang dapat mendatangkan kerusakan dan Adzab Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya, ”Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah nikmat dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS An-Nisaa [4]: 79).

Jelaslah, iman pada takdir bukan berarti kita diam tak berdaya dan memasrahkan semua pada takdir. Atau menyalahkan semua kejadian buruk yang menimpa kita dengan kilah, ”Takdirku sungguh kejam.”

Karena mengimani takdir sesungguhnya adalah motivasi bagi kita untuk berbuat yang terbaik. Ingat, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri. Wallahu a`lam bish-shawab.

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.