Mengenal Cara Belajar Individu (Zainun)

Desember 25, 2007 at 2:39 am | In IQ | Leave a Comment

Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. Di negara-negara maju sistem pendidikan bahkan dibuat sedemikian rupa sehingga individu dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.   

 Di Indonesia seringkali kita mendengar keluhan dari orangtua yang merasa sudah melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya menjadi “pintar”. Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah terbaik. Selain itu anak diikutkan dalam berbagai kursus maupun les privat yang terkadang menyita habis waktu yang seharusnya bisa dipergunakan anak atau remaja untuk bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian usaha-usaha tersebut seringkali tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang justru menimbulkan masalah bagi anak dan remaja.   

 Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung pintar? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh sang anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam pendidikan yang dijalaninya termasuk kursus atau les privat. Cara belajar yang dimaksudkan disini adalah kombinasi dari bagaimana individu menyerap, lalu mengatur dan mengelola informasi. 

 Otak Sebagai Pusat Belajar

 Otak manusia adalah kumpulan massa protoplasma yang paling kompleks yang ada di alam semesta. Satu-satunya organ yang dapat mempelajari dirinya sendiri dan jika dirawat dengan baik dalam lingkungan yang menimbulkan rangsangan yang memadai, otak dapat berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun. Otak inilah yang menjadi pusat belajar sehingga harus dijaga dengan baik sampai seumur hidup agar terhindar dari kerusakan.

Menurut MacLean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain/three in one brain (dalam DePorter & Hernacki, 2001). Bagian pertama adalah batang otak, bagian kedua sistem limbik  dan yang ketiga adalah neokorteks.

Batang otak memiliki kesamaan struktur dengan otak reptil, bagian otak ini bertanggungjawab atas fungsi-fungsi motorik-sensorik-pengetahuan fisik yang berasal dari panca indra. Perilaku yang dikembangkan bagian ini adalah perilaku untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies.

Disekeliling batang otak terdapat sistem limbik yang sangat kompleks dan luas. Sistem ini berada di bagian tengah otak manusia. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif yaitu menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. Selain itu sistem ini mengatur bioritme tubuh seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, jantung, gairah seksual, temperatur, kimia tubuh, metabolisme dan sistem kekebalan. Sistem limbik adalah panel kontrol dalam penggunaan informasi dari indra penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh, perabaan, penciuman sebagai input yang kemudian informasi ini disampaikan ke pemikir dalam otak yaitu neokorteks.

Neokorteks terbungkus di sekitar sisi sistem limbik, yang merupkan 80% dari seluruh materi otak. Bagian ini merupakan tempat bersemayamnya pusat kecerdasan manusia. Bagian inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan sensasi tubuh manusia. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir intelektual, pembuatan keputusan, perilaku normal, bahasa, kendali motorik sadar, dan gagasan non verbal. Dalam neokorteks ini pula kecerdasan yang lebih tinggi berada, diantaranya adalah : kecerdasan linguistik, matematika, spasial/visual, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intrapersonal dan intuisi.

 Karakteristik Cara Belajar

 Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik cara belajar  yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi “pintar” sehingga kursus-kursus atau pun les private secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.

Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut: 

1. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual     

Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:  

  • rapi dan teratur
  • berbicara dengan cepat
  • mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik
  • teliti dan rinci 
  • mementingkan penampilan
  • lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar 
  • mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual
  • memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik
  • biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar
  • sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis)
  • merupakan pembaca yang cepat dan tekun
  • lebih suka membaca daripada dibacakan
  • dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap  waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan.
  • jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara
  • lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain
  • sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat “ya” atau “tidak’
  • lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah
  • lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik
  • seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata

2. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial   

Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:  

  • sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja
  • mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik
  • lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca
  • jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras
  • dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara
  • mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita
  • berbicara dalam irama yang terpola dengan baik
  • berbicara dengan sangat fasih
  • lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya
  • belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat
  • senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar
  • mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi
  • lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya
  • lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik 

3. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik   

Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:  

  • berbicara dengan perlahan
  • menanggapi perhatian fisik
  • menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka
  • berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain 
  • banyak gerak fisik
  • memiliki perkembangan otot yang baik
  • belajar melalui praktek langsung atau manipulasi
  • menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung
  • menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca
  • banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal)
  • tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama
  • sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut
  • menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
  • pada umumnya tulisannya jelek
  • menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)
  • ingin melakukan segala sesuatu

Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai. Bagi para remaja yang mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk mulai merenungkan dan mengingat-ingat kembali apa karakteristik belajar anda yang paling efektif. Setelah itu cobalah untuk membuat rencana atau persiapan yang merupakan kiat belajar anda sehingga dapat mendukung agar kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan memanfaat berbagai media pendidikan seperti tape recorder, video, gambar, dll. Selamat mencoba.  Semoga bermanfaat.

 

Cara Belajar Efektif (Studygs)

Desember 25, 2007 at 2:35 am | In IQ | 1 Comment

Langkah-langkah belajar efektif adalah mengetahui

  • diri sendiri
  • kemampuan belajar anda
  • proces yang berhasil anda gunakan, dan dibutuhkan
  • minat, dan pengetahuan atas mata pelajaran anda inginkan

Anda mungkin belajar fisika dengan mudah tetapi tidak bisa belajar tenis, atau sebaliknya. Belajar apapun, adalah proces untuk mencapai tahap-tahap tertentu.

Empat langkah untuk belajar.
Mulai dengan cetak halaman ini dan jawab pertanyan-pertanyaannya. Lalu rencanakan strategi anda dari jawaban-jawabanmu, dan dengan “Pedoman Belajar” yang lain.

Mulai dengan masa lalu Apakah pengalaman anda tentang cara belajar? Apakah andaWhat was your experience about how you learn? Did you

  • senang membaca? memecahkan masalah? menghafalkan? bercerita? menterjemah? berpidato?
  • mengetahui cara menringkas?
  • tanya dirimu sendiri tentang apa yang kamu pelajari?
  • meninjau kembali?
  • punya akses ke informasi dari banyak sumber?
  • menyukai ketenangan atau kelompok belajar?
  • memerlukan beberapa waktu belajar singkat atau satu yang panjang?

Apa kebiasaan belajar anda? Bagaimana tersusunnya? Yang mana terbaik? terburuk?

Bagaimana anda berkomunikasi dengan apa yang anda ketahui belajar paling baik? Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara?

Teruskanke masa sekarang Berminatkah anda?
Berapa banyak waktu saya ingin gunakan untuk belajar?
Apa yang bersaing dengan perhatian saya?Apakah keadaannya benar untuk meraih sukses?
Apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang di luar kontrol saya?
Bisakah saya merubah kondisi ini menjadi sukses?

Apa yang mempengaruhi pembaktian anda terhadap pelajaran ini?

Apakah saya punya rencana? Apakah rencanaku mempertimbangkan pengalaman dan gaya belajar anda?

Pertimbangkan
proses,
persoalan utama
Apa judulnya?
Apa kunci kata yang menyolok?
Apakah saya mengerti?Apakah yang telah saya ketahui?
Apakah saya mengetahui pelajaran sejenis lainnya?

Sumber-sumber dan informasi yang mana bisa membantu saya?
Apakah saya mengandalkan satu sumber saja (contoh, buku)?
Apakah saya perlu mencari sumber-sumber yang lain?

Sewaktu saya belajar, apakah saya tanya diri sendiri jika saya mengerti?
Sebaiknya saya mempercepat atau memperlambat?
Jika saya tidak mengerti, apakah saya tanya kenapa?

Apakah saya berhenti dan meringkas?
Apakah saya berhenti dan bertanya jika ini logis?
Apakah saya berhenti dan mengevaluasi (setuju/tidak setuju)?

Apakah saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan kembali lagi?
Apakah saya perlu mendiskusi dengan “pelajar-pelajar” lain untuk proces informasin lebih lanjut?
Apakah saya perlu mencari “para ahli”, guruku atau pustakawan atau ahliawan?

Buat
review
Apakah kerjaan saya benar?
Apakah bisa saya kerjakan lebih baik?
Apakah rencana saya serupa dengan “diri sendiri”?Apakah saya memilih kondisi yang benar?
Apakah saya meneruskannya; apakah saya disipline pada diri sendiri?

Apakah anda sukses?
Apakah anda merayakan kesuksesan anda?

Keluar dari kotak (aisha)

Oktober 30, 2007 at 6:58 pm | In IQ | 1 Comment

Di sekolahku, setiap hari senin Minggu keempat kita ga pernah upacara, soalnya ada pembinasaan (Pembinaan Wali Kelas) di kelas masing-masing. Nah, semenjak aku duduk di kelas XII nih, pembinasaan itu diubah jadi pembinaan di lapangan. Jadi semua murid SMANSA n guru-guru pergi ke lapangan n dengerin semacam motivasi lah dari pakar-pakar yang diundang.

Ini udah dua kali dilaksanain, tapi berhubung pas pembinaan yang pertama, yang pembicaranya Pak Supri (afwan kalo salah0 aku ga masuk skul, jadi bagiku ini teh pembinaan di lapangan yang pertama kali (n_n)

Hari ini pembicaranya itu Pak Nasikin (afwan kalo salah), dari UI. Beliau bilang, di dunia ini semua orang tua pasti ingin anaknya sukses. So,,kita harus belajar,,hehehehe. Intinya sih bukan itu, yang jelas beliau menekankan kita nih buat berfikir keluar dari kotak..

Apa sih berfikir keluar dari kotak itu?

masuk ke kotak terus keluar baru mikir?
ya enggaklah! :p

So,,gini nih maksudnya. Beliau bilang, kita tuh hidup di era globalisasi, dan ga ada satupun yang bisa mencegah globalisasi terus berkembang (kecuali Allah ya..). Kalau kita mikirnya standar-standar aja,, ya kita bakal kegiles ama SDM-SDM dari negara lain. Pemikiran yang standar, misalnya nih..buat yang sekarang lagi duduk di kelas XII, targetnya harus lulus SPMB. Gak papa sih sebenernya, tapi kata beliau jadikan itu pilihan terakhir. Maksudnya, kita jangan terpaku ama itu aja, kita juga harus nyoba skul di luar negeri. Cari Beasiswa. Jangan ngerjain soal2 SMPB,,tapi soal2 yang luar negeri oriented juga…karena itu tadi,,we are going to interface the globalization..
————————————————————————————————

Kalau aku pribadi sih mikir, berfikir keluar dari kotak adalah cara berfikir yang di luar standar. Maksudnya, mungkin kebanyakan dari kita sering meng-under estimate diri sendiri, berfikir bahwa diri kita ga mampu, padahal sebenarnya kita mampu. Pikiran yang ngatif itu lah yang membuat kita ga akan maju…
Selain itu, yang menghalangi kita untuk berfikir di luar kotak adalah faktor lingkungan. Bisa jadi, kalo kita tinggal di lingkungan yang enggak menomorsatukan pendidikan, kita ga akan pernah mau mikirin tentang pendidikan, padahal itu penting…

gak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, yuk kita sama-sama berubah..

Tulisan ini didedikasikan buatku dan semua temen-temen yang berusaha untuk menjadikan diri ini lebih baik..amin (n_n)

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.